Tampilkan postingan dengan label Makhluk Asing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makhluk Asing. Tampilkan semua postingan
Kamis, 29 Maret 2012

Cinta dalam diam


Aku tak tahu perasaan apa ini. Mungkinkah Cinta? Atau hanya Kagum? Atau Suka? Atau Sayang? Atau bahkan Nafsu? Ehm, kurasa tidak untuk nafsu. Coret untuk kata itu. Ahh, begitu banyak kata untuk mengartikannya, membuatku bingung.

Jika orang bilang mencintai itu merasakan 'deg-deg’an tapi tidak bagiku. Jantungku tak pernah meloncat-loncat saat mata tak sengaja bertemu di keramaian. Tapi bolehkan aku pakai kata cinta untuk perasaanku? Walaupun kata itu terlalu tinggi untuk sebuah perasaan main-main seperti ini.

Aku mencintainya sejak pertemuan pertama. Tubuhku sudah mengabadikan setiap detail tubuhnya. Bagaimana punggungnya ketika berdiri. Bagaimana tegapnya ia ketika mengendarai motor. Bagaimana gesitnya sang kaki ketika berlari mengejar bola. Bagaimana kesempurnaannya. Senyum, marah, kecewa, segala ekspresi mukanya. Segala gerak bibir, mata, alis, pipi tembamnya. Tubuhku sudah menghafalnya.

Aku juga tak mengerti bagaimana bisa. Secara tak sengaja segalanya sudah terekam. -Catatan paling penting aku bukan plagiat-. Aku hanya suka mengamati dirinya ketika bertemu.

Aku tak pernah katakan padanya kalau aku mencintainya. Biarlah segalanya aku simpan dalam laci terdalamku. Apakah aku pengecut? Mungkin ya, mungkin tidak. Cukup banyak untuk mengatakannya. Ada ketakutan tersendiri untuk mengatakannya. Salah satunya, aku takut jika mendahulu takdir Tuhan. Belum tentu dia adalah jodohku tapi aku sudah main-main mengatakan dia akan jadi milikku. Ataupun ingin memilikinya.

Beberapa hari lalu aku bertemu lagi dengannya, entah hanya perasaanku atau memang itu yang terjadi. Dia sedikit berbeda sikapnya. Dalam hati aku bertanya, apakah dia sudah tahu aku menyimpan sekeping cinta? Aku tak pernah mengharap apapun. Satu hal yang aku yakini "cinta adalah memberi. Dia tidak mengharap untuk menerima -tidak menuntut-. Walaupun dia tidak meminta. Tapi cinta akan memberi."

Oh Tuhan, biarkan segalanya menjadi mudah.
Rabu, 21 Maret 2012

Makhluk Asing



COWOK!!! Aku tidak terlalu akrab dengan kata, bentuk, suaranya. Bukannya aku lesby.  Aku tak punya banyak teman cowok. Jadi, mungkin karena itulah mereka asing bagiku. Jatuh Cinta? Aku pernah jatuh cinta pada bangsa mereka. Tapi tak pernah pacaran.
Suatu hari sewaktu menuju parkiran, makhluk asing itu menyapaku. Dia dari jurusan berbeda. Aku beberapa kali pernah membantunya untuk Key-in (pengambilan mata kulian dengan system yang terhubung internet). Dia suka music, jadi mungkin karena itu tidak terlalu fanatic dengan computer. Untuk key-in saja banyak kebingungan dihadapinya. Untuk itulah aku yang kebetulan sedang online di facebook waktu itu member informasi kepadanya. Bukannya aku sok pintar, tapi karena aku memperhatikan sewaktu diberi informasi. Sedangkan makhluk itu? Dia selalu sibuk dengan urusannya sendiri.
Sebenarnya, aku agak gak iklas. Masak, aku yang mendengarkan harus berbagi informasi sama makhluk yang tidur sewaktu diberi informasi? Tapi naluri kemanusiaanku mengalahkan rasa tidak ikhlas itu. Walau sudah kuperinci langkah-langkahnya, tetap saja dia tidak bisa. Akhirnya, akulah yang meng-key-in mata kuliahnya.
Dia begitu berterima kasih padaku. Setelah itu, dia mencariku. Aku yang gak begitu terkenal membuatnya kesulitan menemukanku. Diriku seperti kerikil kecil sedangkan dia batu yang besar. Semester berikutnyapun dia masih meminta bantuanku. Walau kami sering smsan, aku masih sungkan padanya. Tak pernah mengajaknya bicara terlebih dahulu saat ketemu. Walau aku mengajaknya masuk organisasiku. Dia agak gak enak berada di tengah-tengah kami. Mungkin merasa berbeda. Padahal kami tak pernah mempermasalahkannya. Kemudian, aku berpikir. Apa dia masuk hanya karena untuk balas budi padaku? Sampai sekarang aku belum menemukan jawabannya.
Di hari itu dia sedang duduk-duduk bersama teman-temannya. Anak-anak gaul seperti dia tentunya. Diriku bimbang. Antara ingin menyapanya atau tidak. Aku memutuskan tidak menyapa. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Diriku tepat berada di belakangnya. Dilangkah ke empat, saat aku melewatinya. “Assalamu’alaykum.” Suaranya menyapaku.
“Wa’alaykumsalam.” Jawabku sambil menengoknya. Aku malu. Seharusnya sejak awal aku menyapanya.

Blogger templates

Blogroll